Pengungsi Rohingnya membutuhkan perlindungan segera atas haknya

To sign this petition in English, please click here. 

Hampir sejuta pengungsi dan pencari suaka Rohingya tinggal di kamp pengungsian yang sangat padat dan tidak layak di Cox’s Bazar, Bangladesh. Mereka melarikan diri dari rumah mereka di Myanmar akibat kejahatan terhadap kemanusiaan oleh militer yang sekarang menjadi subyek kasus di bawah Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida Mahkamah Internasional.

Pandemi COVID-19 membuat kondisi mereka semakin buruk. Dari Maret hingga pertengahan Juni 2020, dari 400 orang yang dites, ada 40 yang positif mengidap virus tersebut. Frekuensi tes kurang dari satu persen populasi kamp. Beberapa dari mereka, termasuk perempuan, menjadi korban kekerasan dan upaya karantina koersif yang menstigma pengungsi dengan masalah kesehatan. Mereka jadi takut dan enggan melapor jika sakit atau memiliki gejala terpapar virus berbahaya tersebut.

Pembatasan akses internet dan telekomunikasi membatasi hak pengungsi  menerima informasi yang cepat dan dapat diandalkan tentang COVID-19 serta  hak  berkomunikasi dengan anggota keluarga. Pandemi membatasi kesempatan  pengungsi Rohingya, khususnya perempuan, untuk mencari bantuan hukum dari kekerasan seksual dan berbasis gender.

Masa depan lebih dari setengah juta anak Rohingya juga di ujung tanduk. Pemerintah Bangladesh menolak memberikan akses pendidikan yang berkualitas di kamp pengungsi. Rencana memperkenalkan kurikulum pendidikan Myanmar untuk anak-anak Rohingya tertunda untuk jangka waktu tak terbatas akibat pandemi.

Tanpa adanya rumah serta kesempatan mendapat penghidupan dan masa depan yang layak, ratusan pengungsi Rohingya menempuh perjalanan berbahaya dengan kapal ke negara-negara tetangga. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Namun, seringkali mereka ditolak masuk ke negara-negara itu sehingga terdampar di laut berbulan- bulan.

Tanpa dukungan internasional yang berkelanjutan, pemberian bantuan dan pembagian tanggung jawab untuk memberikan perlindungan, bisa dipastikan hak pengungsi Rohingya akan terus dilanggar dan diabaikan.

Tanda tangani petisi untuk mendesak dunia internasional:

Memastikan hak asasi pencari suaka Rohingya terlindungi dan mereka menerima bantuan dan kerja sama internasional di tengah situasi mendesak ini.

Who's signing

Pengungsi Rohingya butuh perlindungan hak yang cepat dan lebih kuat

Dengan hormat,

Kami menulis surat ini untuk mendesak komitmen Anda memperkuat dukungan internasional bagi pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, yang melarikan diri dari kejahatan mengerikan di Myanmar dan menghadapi kondisi semakin buruk akibat pandemi COVID-19.

Hampir sejuta pengungsi dan pencari suaka Rohingya tinggal di kamp pengungsian yang sangat padat dan tidak layak di Cox’s Bazar, Bangladesh. Mereka melarikan diri dari rumah mereka di Myanmar akibat kejahatan terhadap kemanusiaan oleh militer, sekarang subyek kasus di bawah Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida Mahkamah Internasional.

Saat ini, pandemi COVID-19 semakin memperburuk situasi di kamp pengungsian. Beberapa dari mereka, termasuk perempuan, menjadi korban tindakan kekerasan dan upaya karantina yang koersif yang menstigma pengungsi dengan masalah kesehatan. Mereka jadi takut dan enggan melaporkan jika sakit atau memiliki gejala terpapar virus. Meskipun penyebaran luas transmisi tidak dapat dikonfirmasi karena jumlah tes yang sangat rendah (kurang dari satu persen), penyedia layanan kesehatan mencatat adanya penurunan angka konsultasi kesehatan sebesar 50 persen antara Maret dan Mei.

Pembatasan akses internet dan telekomunikasi membatasi hak pengungsi  menerima informasi yang cepat dan dapat diandalkan tentang COVID-19 serta  hak  berkomunikasi dengan anggota keluarga. Pandemi membatasi kesempatan  pengungsi Rohingya, khususnya perempuan, untuk mencari bantuan hukum dari kekerasan seksual dan berbasis gender.

Masa depan lebih dari setengah juta anak Rohingya juga di ujung tanduk. Pemerintah Bangladesh menolak memberikan akses pendidikan yang berkualitas di kamp pengungsi. Rencana memperkenalkan kurikulum pendidikan Myanmar untuk anak-anak Rohingya tertunda untuk jangka waktu tak terbatas akibat pandemi.

Tanpa adanya rumah serta kesempatan mendapat penghidupan dan masa depan yang layak, ratusan pengungsi Rohingya menempuh perjalanan berbahaya dengan kapal ke negara-negara tetangga. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Namun, seringkali mereka ditolak masuk ke negara-negara itu sehingga terdampar di laut berbulan- bulan.

Tanpa dukungan berkelanjutan melalui kerjasama internasional, pemberian bantuan dan pembagian tanggung jawab untuk memberikan perlindungan, hak-hak para pengungsi Rohingya hampir pasti akan terus dilanggar dan diabaikan.

Kami mendesak pemerintah Anda untuk memastikan bahwa hak asasi para pengungsi Rohingya dilindungi dan agar mereka dapat menerima bantuan internasional dan kerja sama yang sangat mereka butuhkan saat ini.

384

of a 10,000 signature goal

Will you sign?