Rasisme dan HAM

Apa itu rasisme?

Rasisme adalah perbedaan perilaku dan ketidaksetaraan berdasarkan warna kulit, ras, suku, dan asal-usul seseorang yang membatasi atau melanggar hak dan kebebasan seseorang. 

Rasisme juga sering diartikan sebagai keyakinan bahwa manusia dapat dikelompokkan berdasarkan ciri biologis yaitu 'ras'. Gagasan ini meyakini adanya hubungan sebab akibat antara ciri fisik suatu ras dengan kepribadian, kecerdasan, moralitas, dan ciri-ciri budaya dan perilaku lainnya. Hal ini memunculkan asumsi keliru yang meyakini beberapa ras secara 'bawaan' lebih unggul dari yang lain. 

 

Emangnya rasisme itu berbahaya?

 

Tentu! Ini beberapa bahaya yang bisa terjadi akibat rasisme: 

  • Rasisme kerap berujung pada penyiksaan dan perlakuan buruk

Di negara yang terbelah konflik rasial seperti AS, penyiksaan dan perlakuan buruk sering menimpa kelompok yang menjadi target rasisme.

Misalnya, di Amerika Serikat, setiap satu juta populasi orang kulit hitam, ada 30 orang yang tewas ditembak polisi. Sedangkan, dalam setiap satu juta populasi kulit putih, ada 12 orang yang tewas ditembak polisi. Data ini mengindikasikan dugaan rasisme atau diskriminasi terhadap orang berkulit lebih gelap.

  • Rasisme melanggengkan impunitas

Negara yang lalai dan tak menganggap serius rasisme bisa mengakibatkan mekanisme yang ada tidak bisa mengidentifikasi dan memperbaiki pola diskriminasi. Di banyak negara, kasus perlakuan buruk aparat dengan dugaan diskriminasi kerap tidak bisa diusut tuntas, walaupun berhasil dituntut dan didakwa, mereka hanya mendapat hukuman ringan. 

Misalnya, di Prancis, pemuda imigran asal Arab dan pemuda kulit hitam 20 kali lebih mungkin dituduh sebagai kriminal dan digeledah oleh polisi Prancis di jalanan hanya karena warna kulit mereka. Penggeledahan yang dilakukan oleh polisi ini kerap berujung pada intimidasi dan kekerasan. Namun, menurut Madjid Messaoudene, aktivis dan politisi lokal Prancis, belum ada pelaku kekerasan aparat ini yang sudah diadili. 

  • Rasisme bisa menyebabkan konflik terbuka

Untuk mempertahankan kekuasaan, pemimpin politik kerap membangkitkan kebencian ras untuk menggalang kekuatan mereka, memandang lawan tidak sebagai manusia yang berhak dihormati hak-haknya, dan menjadikan rasisme sebagai pembenaran atas pelanggaran HAM. 

Misalnya, di Myanmar, kaum minoritas sering jadi target pelanggaran HAM. PBB berpendapat bahwa 'pembersihan etnis' yang disertai genosida terjadi terhadap orang Rohingya. Orang Rohingya menjadi target pembunuhan, penyiksaan, dan perlakuan buruk.

  • Rasisme menyebabkan kesenjangan akses pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan lainnya

Secara historis, mereka yang secara terbuka mengakui atau mempraktikkan rasisme berpendapat bahwa anggota ras yang berstatus rendah harus dibatasi pada pekerjaan yang dianggap berstatus rendah, sementara anggota ras dominan harus memiliki akses eksklusif ke kekuasaan politik, sumber daya ekonomi, pekerjaan berstatus tinggi, dan hak-hak sipil lainnya.

Misalnya, pada 2017 pemerintah Inggris mengidentifikasi lebih dari 4000 orang ke dalam "Gang Matrix", yaitu daftar nama-nama pemuda yang dicurigai sebagai anggota geng hanya karena pernah melihat video dan mendengar musik yang dianggap 'berbahaya'. Mereka distigma berpotensi melakukan kekerasan. 78% orang di daftar ini berkulit hitam. Karena daftar yang bias tersebut, banyak pemuda akhirnya susah mendapat pekerjaan, pendidikan, atau tempat tinggal. 

  • Rasisme membuat perempuan semakin terdiskriminasi 

Beberapa bentuk diskriminasi ras menimpa perempuan dan laki-laki secara berbeda. Ada tindakan rasis yang hampir sepenuhnya dialami perempuan seperti sterilisasi paksa perempuan komunitas adat. Terkadang diskriminasi ras menimpa perempuan dalam cara tertentu, misalnya ketika aparat melecehkan perempuan untuk mengintimidasi sebuah komunitas. Selain itu, rasisme dapat memiliki konsekuensi yang berbeda bagi perempuan, misalnya ketika pemerkosaan berujung pada kehamilan tidak diinginkan dan pengucilan. 

Pada kerusuhan Mei 1998, bias rasial juga diduga melatarbelakangi perkosaan terhadap ratusan perempuan Tionghoa di berbagai lokasi di Indonesia, hingga presiden Habibie kala itu merekomendasikan pembentukan Komnas Perempuan. Catatan Komnas Perempuan tentang kekerasan seksual pada peristiwa Mei 1998 menyebutkan, sebagian elemen tentara Indonesia diduga menjadi pelaku. 

Rasisme masih ada di Indonesia nggak sih? 

Masih ingat materi pelajaran Sejarah di sekolah, tentang penggolongan kelas dan ras yang dilakukan oleh VOC Belanda? Tapi tahu nggak sih, setelah lepas dari penjajahan asing, warga Indonesia sendiri pun belum lepas dari perilaku diskriminatif. Kerusuhan Mei 1998 merupakan bentuk diskriminasi rasial terhadap orang Tionghoa, yang diikuti penjarahan dan kekerasan. Selain itu, rasisme juga terjadi dalam beberapa kasus ini:

  • Pada Agustus 2019, sebuah organisasi masyarakat menyerang asrama mahasiswa Papua di Surabaya, menuduh mereka membuang bendera ke selokan sebelum perayaan kemerdekaan, hingga menghina mereka dengan kata-kata seperti “monyet”, “anjing”, dan “babi”. Insiden ini mendorong orang Papua untuk turun ke jalan dan memprotes diskriminasi rasial di beberapa kota. Ironisnya, beberapa peserta aksi tersebut justru ditangkap atas tuduhan makar.
  • Kasus lainnya yang banyak terjadi di Indonesia adalah rasisme dan stereotipe terhadap masyarakat adat. Misalnya, pemerintah menyebut Orang Rimba sebagai Suku Anak Dalam, yang dimaknakan sebagai orang terbelakang yang tinggal di pedalaman dan harus dimodernisasikan. Suku Orang Rimba di Jambi dan Sumatera Selatan masih kerap mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai prinsip HAM, misalnya perampasan wilayah adat mereka untuk kepentingan eksploitasi. Sayangnya, perilaku diskriminatif dan pelanggaran hak masyarakat adat masih kerap terjadi di Indonesia.

Apa yang bisa kamu lakukan untuk lawan rasisme?

  • Cari tahu lebih banyak tentang rasisme
  • Sebarkan kesadaran tentang bahaya rasisme
  • Pastikan lingkungan sosial kita, seperti pendidikan dan pekerjaan, inklusif terhadap keberagaman asal-usul dan budaya
  • Desak negara melindungi warganya dari rasisme melalui aturan dan kebijakan anti-rasisme
  • Dukung kerja-kerja lembaga yang mendukung kesetaraan dan keadilan untuk semua orang
  • Beri dukungan dan dengarkan orang-orang yang terdampak rasisme  
  • Dukung keadilan rasial, yaitu perlakuan adil yang sistematis terhadap orang-orang dari semua ras untuk menghasilkan peluang yang setara untuk semua orang.

 

Please check your e-mail for a link to activate your account.